Riset Sel Surya untuk Wujudkan Energi Terbarukan

 
 

 

Bandung-Humas BRIN. Di tahun 2025 pemerintah menargetkan bauran energi baru dan terbarukan agar dapat mencapai 23?ri total pasokan energi terbarukan. Hal ini dilakukan karena di tahun 2050 energi baru dan terbarukan memegang peranan penting dalam target zero emission. BRIN melalui Pusat Riset Elektronika mengembangkan riset sel surya dalam berbagai teknologi. Lia Muliani Pranoto, peneliti Madya di Pusat Riset Elektronika BRIN berbagi informasinya melalui acara IG Live Bisaan Bangga pada Selasa (28/6).

 

Melalui talk show dengan tema “Kenali Sel Surya dalam Kehidupan”, Lia menjelaskan solar cell atau sel surya adalah salah satu perangkat aktif yang dapat mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik. “Sel surya yang banyak beredar yang ada di lampu lampu jalan biasanya tegangan atau output yang dihasilkan kecil sekitar 0.7V, dengan arus yang dihasilkan per orde mili. Nah untuk pemanfaatannya kita harus merangkai secara seri atau pararel,” terang Lia.

 

Lia menjelaskan ada beberapa generasi dalam mengembangkan riset sel surya ini. Untuk generasi pertama Lia menjelaskan pengembangan sel surya berbasis silikon. “Sel surya berbasis silicon ini biasanya menggunakan poli crystal atau single crystal. Outputnya cukup besar bisa sampai 25% untuk sel surya skala lab. Tetapi sel surya berbasis silikon ini sangat disayangkan karena cukup mahal,” terangnya.

Generasi kedua dari sel surya adalah thin film, Lia melanjutkan. Teknologi Thin Film yang sama juga berbasis silikon. "Akan tetapi teknologi thin film agak sulit dikembangkan karena peralatannya mahal," jelasnya. Sel surya generasi ketiga, yaitu generasi yang tengah dikembangkan oleh peneliti BRIN yaitu generasi hybrid. antara sel surya organik dan sel surya inorganik. “Sel surya generasi ini dapat menjanjikan mudah dalam fabrikasi, murah dalam materialnya. Yang umum digunakan berbasis pewarna yaitu dari Syntizes Solar Sel tetapi efisiensinya agak kurang, Yang terakhir adalah perovskite manjadi primadona untuk ke depannya. “Karena teknologi perovskite ini dapat menyamai silikon tapi dengan biaya fabrikasi yang lebih rendah,” papar Lia.

 

Lia menyampaikan sebagai peneliti dirinya membuka untuk selalu berinovasi, berkolaborasi dan bersinergi. “Jangan ragu kawan BRIN untuk berkolaborasi dengan kami, dengan teman-teman di BRIN, untuk menghasilkan produk-produk atau inovasi-inovasi yang bisa kita manfaatkan untuk masyarakat khususnya di Indonesia sehingga kita bisa menjadi bangsa yang memang menghasilkan produk secara mandiri dan lepas dari ketergantungan dari pihak luar,” pungkas Lia. (SCPTO, ed: NU, KG)


Sivitas Terkait : {nama}